Kebanyakan dari kita selalu menuntut untuk didengarkan tetapi tidak pernah mau mendengarkan. Mendengar, nampaknya sudah bukan lagi menjadi suatu alternatif untuk saling menghargai. Kebanyakan orang mengaku lebih sulit menahan telinga untuk mendengar, daripada menahan mulutnya untuk berbicara. Bukankah melalui telinga, kita bisa membuka mata untuk melihat suatu hal dari berbagai sudut pandang yang berbeda?
Memiliki dua telinga dan satu mulut, Bagaimana bisa kita menggunakan mulut dan telinga tidak sesuai proporsinya. Seringkali berbicara panjang dengan ritme cepat tanpa memberi jeda.
Seolah-olah masalah pribadi sendiri adalah yang terpenting dari semua topik.
Seolah-olah menunjukkan yang paling baik dan yang paling benar.
Seolah-olah diri sendiri yang paling terpuruk dan orang lain yang paling buruk.
“They hurt you and they act like you hurt them”. Mereka yang jahat, tetapi mereka merasa dijahati.
Sedang musim dimana orang berlomba-lomba mengambil peran sebagai korban. Selalu mencari pembenaran kemudian menyalahkan orang lain. Singkatnya sih Playing Victim yang selalu mengemis simpati.
Ketika menanam padi, jika padi tidak tumbuh dengan baik. Sebaiknya kita mencari penyebab mengapa tidak tumbuh dengan baik atau tetap menyalahkan padi?
Semua tergantung pada kendali diri kita sendiri. Memilih bertindak untuk membuktikan kebenaran diri atau intropeksi diri. Tidak perlu menempatkan diri sebagai korban, coba benahi diri untuk menerima keadaan.
Karena Playing Victim hanya semakin menunjukkan bahwa dirinya bersikap tidak mampu tapi dipaksa untuk mampu.
Belajar untuk memikul tanggung jawab terhadap kehidupan kita sendiri sama artinya dengan belajar untuk mengakui kelemahan dan kesalahan tanpa meremehkan.