Aku ingin menemui hujan dan membiarkan tubuh ini kedinginan. Karena dengannya aku tak menangis sendirian. Namun mereka bilang langit sedang baik-baik saja sekarang. Lalu mengapa aku melihat langit yang sedang menangis (?) Entah, mungkin karena ada ungkapan hati yang menjerit, yang tersimpan dibalik kelamnya awan.
Wahai semesta.
Ajaklah aku berdamai dengan kehidupan.
Agar tak ku rangkai masa depan dengan harapan kosong yang termakan oleh
kerumunan waktu. Hampa yang menengadah ke atas langit, semu yang bahkan tak
terhembus oleh angin dan suara gemricik ini pun sedang melihatku dengan iba.
Bunga yang enggan bermekaran, burung yang
enggan berterbangan. Sunyi nan sepi ikut enggan meninggalkan. Begitupun juga
aku yang mulai enggan melihat keindahan. Karena diri ini terlalu larut dalam
kekecewaan. Mungkin ada baiknya menata hati yang resah dengan hal apapun yang
sewajarnya.
Sungguh, aku bersedih bukan karena tak
bisa bertemu denganmu untuk sementara waktu. Aku memahami betul bahwa belum
saatnya aku menuntutmu untuk begini dan begitu. Ingatlah, jangan pernah engkau
rapuh hanya karena melihat tetesan di pelupuk mataku. Teguhkanlah langkahmu
untuk menggenapiku. Disini aku masih setia menunggu bukti kesungguhanmu meski
harus berhadapan dengan pukulan rindu.
Namun, tidak bisa kah kau meluangkan waktu
untuk bertanya, mengapa rasa ini begitu menyiksaku. Seberapa lama aku menunggu.
Seberapa jauh aku melangkah. Seberapa dalam aku menyerah dengan keadaan.
Disini, seberapa kerasnya aku memperjuangkan. Menuntut diriku sendiri.
Menantang sendiriku. Aku memang bukan prioritasmu sekarang. Dan, ya. Seberapa
sering kau mengabaikan. Seberapa penting kau menyibukkan. Seberapa banyak kau
memperhatikan. Seberapa pedulinya kau menghitung rintik yang sudah ku teteskan.
Cukup.
Aku membiarkan diri ini bungkam karena
sudah tidak ada kata yang bisa ku utarakan.
Akan kurapikan semua keluh kesah. Akan ku
redam semua prasangka yang menyesakkan dada.
Biar ku simpan ini dalam hujan di bawah
mata dan ku biarkan membasahi pipi lalu membanjiri hati.
Dan . . .
Semoga engkau segera membawakanku mentari
yang tersenyum ramah kepada semua masalah.
😊