Saturday, May 5, 2018

Hujan di Bawah Mata


Aku ingin menemui hujan dan membiarkan tubuh ini kedinginan. Karena dengannya aku tak menangis sendirian. Namun mereka bilang langit sedang baik-baik saja sekarang. Lalu mengapa aku melihat langit yang sedang menangis (?) Entah, mungkin karena ada ungkapan hati yang menjerit, yang tersimpan dibalik kelamnya awan.

Wahai semesta.
Ajaklah aku berdamai dengan kehidupan. Agar tak ku rangkai masa depan dengan harapan kosong yang termakan oleh kerumunan waktu. Hampa yang menengadah ke atas langit, semu yang bahkan tak terhembus oleh angin dan suara gemricik ini pun sedang melihatku dengan iba.

Bunga yang enggan bermekaran, burung yang enggan berterbangan. Sunyi nan sepi ikut enggan meninggalkan. Begitupun juga aku yang mulai enggan melihat keindahan. Karena diri ini terlalu larut dalam kekecewaan. Mungkin ada baiknya menata hati yang resah dengan hal apapun yang sewajarnya.

Sungguh, aku bersedih bukan karena tak bisa bertemu denganmu untuk sementara waktu. Aku memahami betul bahwa belum saatnya aku menuntutmu untuk begini dan begitu. Ingatlah, jangan pernah engkau rapuh hanya karena melihat tetesan di pelupuk mataku. Teguhkanlah langkahmu untuk menggenapiku. Disini aku masih setia menunggu bukti kesungguhanmu meski harus berhadapan dengan pukulan rindu.

Namun, tidak bisa kah kau meluangkan waktu untuk bertanya, mengapa rasa ini begitu menyiksaku. Seberapa lama aku menunggu. Seberapa jauh aku melangkah. Seberapa dalam aku menyerah dengan keadaan. Disini, seberapa kerasnya aku memperjuangkan. Menuntut diriku sendiri. Menantang sendiriku. Aku memang bukan prioritasmu sekarang. Dan, ya. Seberapa sering kau mengabaikan. Seberapa penting kau menyibukkan. Seberapa banyak kau memperhatikan. Seberapa pedulinya kau menghitung rintik yang sudah ku teteskan.

Cukup.
Aku membiarkan diri ini bungkam karena sudah tidak ada kata yang bisa ku utarakan.
Akan kurapikan semua keluh kesah. Akan ku redam semua prasangka yang menyesakkan dada.
Biar ku simpan ini dalam hujan di bawah mata dan ku biarkan membasahi pipi lalu membanjiri hati.
Dan . . .
Semoga engkau segera membawakanku mentari yang tersenyum ramah kepada semua masalah.
😊


Share:

Related Posts: