Menikah di usia muda?
Yang harus direnungkan adalah jika kita
melihat banyak keluarga para ulama yang nikah muda bahkan ada yang menikah di
usia belia, sudahkah kita melihat latar belakang pernikahannya?
“Segerakan menikah”, memang benar jika
berniat menjaga hati dan mata dari pandangan yang haram. Berniat menjaga
kehormatan diri dan pasangan. Tapi, menikah bukan sebuah permainan. Pernikahan
itu janji suci sebagai sebuah pertanggungjawaban. Pertanggungjawaban kita
sebagai hamba Allah. Bukan sebatas suka melainkan ketika susah juga harus tetap
merasa bahagia berjuang berdua di jalan Allah.
Misalnya Aisyah istri Rasulullah. Iya, sang Humairah yang dinikahi oleh kekasih Allah dalam keadaan masih muda. Ketika usianya belum genap 15 tahun saja, tidak ada sama sekali rasa galau,
curhat kemana-mana, tetap tenang dan hanya dzikir kepada Allah.
Alasannya? Karena dasarnya sudah kuat. Sudah dididik dari kecil oleh
Abu Bakar dan Ummu Umar. Bagaimana diajarkan iman dari kecil. Sudah mengetahui
ilmu agama dan adab sopansantun. Termasuk bagaimana adab menjadi istri, bagaimana mengerti
karakter pasangan, bagaimana menghargai kekurangan pasangan, mengapresiasi
kelebihan pasangan, bagaimana adab kepada orang tua setelah menikah, juga adab
kepada mertua.
Nah kita? Dasar belum terlalu kuat
tiba-tiba langsung ada pernikahan. Belum siap jadi seorang istri juga ibu apalagi menantu.
Jika ada yang menjawab “ Untuk urusan itu
bisa belajar bersama-sama setelah menikah”. Begini. Seperti yang kita tahu
bahwa orang tua dari jaman dahulu kala bahkan sebelum kita lahir, wejangan yang
diberikan selalu sama. "Nikah itu tidak menjamin ada kebahagiaan setiap
hari". Kondisi mental yang belum ajeg bisa
menjadi pemicu keributan. Ambil contoh tentang komitmen. Ketika sudah menikah,
kita akan sering dihadapkan dengan kondisi untuk saling mengalah, saling
menyingkirkan ego, saling membahagiakan juga menjaga. Jika suatu hari ada
kerikil dalam rumah tangga, dengan kondisi mental yang memang dari awal belum
kuat bukan menolak kemungkinan kelak menyelesaikannya tidak dengan kedewasaan
bisa jadi malah mencari pelarian.
Menikah adalah komitmen yang sudah diikat
untuk tidak diingkari. Komitmen selalu bersama dalam suka maupun duka, dalam
lapang maupun sempit, dalam sehat maupun sakit. Allah memilihkan jodoh juga
tidak selalu dengan sifat yang sama. Sesekali akan ada pertengkaran hanya
karena perbedaan.
Lantas bagaimana? Kembali pada intinya,
nikah muda harus ada dasar yang kuat dari dalam diri. Matangkan mentalmu untuk
siap menghadapi segala ‘resiko’nya. Jadi jika ingin menikah sekarang pastikan
niatmu, pahami ilmu tentang keluarga, ada kesiapan ekonomi, dan kematangan diri
yang menunjukkan kedewasaanmu.
Semoga setiap niat baik kita untuk
menjalankan sunnah Rosulullah segera dimudahkan oleh Allah. Dan semoga
pernikahan yang kita niatkan adalah pernikahan suci yang bernilai ibadah.
Aamiin ya rabbal 'alamin